Jokowi, Open Source Bagi Negeri
Jumlah pendukung Jokowi melejit tatkala beliau memegang tampuk kepemimpinan di Ibu Kota negara kita. Tak henti membuat media meliput semua (dari A-Z) sepak terjang yang Ia lakukan selama menjabat Gubernur Jakarta. Saat ini, Ia sedang mencalonkan diri untuk memimpin negeri ini, hal tersebut bukan karena paksaan, namun bentuk sifat legowo seorang manusia yang berlatar belakang budaya Jawa kepada pemimpin umum partai PDI Perjuangan. Partainya sendiri memegang mandat dari para kadernya yang mengusung nama Jokowi untuk maju sebagai calon presiden.
Bagi para kader PDIP tentu meminta Jokowi maju sebagai calon bukan hanya berdasar pada kepentingan partai saja, namun melihat rekam jejak, karya dan prestasi seorang Jokowi saat memimpin Solo. Negeri kita butuh pembaharuan, pemimpin yang merakyat, pemimpin yang berada didepan bersama rakyat. Apabila Negara ini di ibaratkan suatu teknologi maka, teknologi secanggih apapun tak akan bisa dioperasikan dengan maksimal apabila brainware sendiri buta dengan teknologi didepannya. Trauma rezim orde baru yang bekepanjangan, trauma kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan menciptakan inovasi berbagai bidang, reformasi yang ke-bablasan membuat bangsa ini melemah di mata dunia.
Jika kita melihat sistem operasi yang umum kita gunakan saat ini adalah microsoft, maka Jokowi diibaratkan teknologi open source. Perjanjian politik yang dilakukan pada periode sebelumnya membuat partai-partai berkoalisi dan membagi-bagikan kursi kepemimpinan, membuat sosok seorang Presiden menjadi lemah ketika menjalankan roda pemerintahan. Mirip dengan Micosoft yang terkenal dengan produk berbayar, apabila Anda sudah membeli lalu menginstal sistem operasi windows, nantinya Anda pasti diwajibkan membeli microsoft office agar dapat bekerja. Belum lagi jika Anda memerlukan program lain yang berjalan di windows, maka Anda harus terus membeli lagi. Berbeda dengan open source yang umumnya program gratisan namun memiliki fungsi yang sama (Open Office). Jokowi bersama PDIP telah menegaskan menolak pembagian kursi, berarti tidak ada bayaran (bagi-bagi kursi jabatan bagi partai lain) di belakang jika nanti Jokowi menjadi presiden.
Saya sendiri membutuhkan teknologi yang benar-benar baru, yang tidak terkontaminasi dengan teknologi tua yang sudah ketinggalan jaman. Teknologi yang sudah teruji dan ramah lingkungan, membuat Saya aman dan nyaman.
Salam Indonesia HEBAT ! #VoteJokowi
.jpg)